LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA REAKSI PEMBENTUKAN / PERUBAHAN GAS DAN KECEPATAN REAKSI

Posted by Unknown Kamis, 17 Januari 2013 0 komentar


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
REAKSI PEMBENTUKAN / PERUBAHAN GAS DAN KECEPATAN REAKSI
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum Kimia



Disusun oleh:
Ilham Maulana
1111E1003
D3 Analis Kesehataan (A)



SEKOLAH TINGGI ANALIS BAKTI ASIH
BANDUNG
2011


       I.            HARI                                      :           Jumat, 28 Oktober 2011
    II.            JUDUL                                   :           Reaksi Pembentukan Gas
 III.            TUJUAN                                 :           1. Mengetahui Perubahan / Pembentukan Warna
                                                                Pada Suatu Reaksi              
                                                            2. Kecepatan Reaksi     
  IV.            PRINSIP DASAR                   :           Reaksi Kimia

     V.            TEORI DASAR                      :


1)    Ciri-ciri Reaksi Kimia
Untuk membuktikan terjadinya reaksi kimia dari suatu proses kimia kita dapat melihat gejala yang menyertai misalnya:

1. Pembentukan endapan
Larutan timbal (II) nitrat direaksikan dengan larutan kalium iodida menghasilkan padatan timbal (II) iodida dan larutan kalium nitrat


2. Pembentukan gas
Pembentukan gas biasanya menunjukkan, bahwa reaksi sedang berlangsung. Reaksi pembentukan gas ditandai dengan adanya gelembung-gelembung udara jika reaksi berlangsung sebagai larutan, atau bau yang tercium ataupun tampak asap yang keluar dari sebuah reaksi dan mengembangnya suatu reaktan.
Contoh:
1.    Pada proses pembuatan kue, penambahan soda kue menyebabkan adonan kue menjadi mengembang. Soda kue menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) yang menyebabkan kue mengembang.
2.    Reaksi antara batu marmer dengan larutan asam klorida menghasilkan gas hidrogen (H2).
3.    Logam stronsium atau barium yang dimasukkan ke dalam air, menghasilkan gas hidrogen (H2).

3. Perubahan warna
Seperti  halnya perubahan endapan, perubahan warna juga mudah untuk diamati sebagai individu terjadinya reaksi kimia
Contoh :
1.    Larutan timbal (II) nitrat direaksikan dengan larutan kalium iodida menghasilkan padatan  timbal (II) iodida yang berwarna kuning dimana awalnya kedua larutan adalah bening.
2.    Perubahan warna besi ketika berkarat menjadi coklat.
3.    Tembaga yang berwarna kuning berubah menjadi hijau ketika berkarat.
4.    Glukosa (bening) jika ditetesi larutan benedict dan dipanaskan akan berwarna jingga dan kemudian menjadi merah bata ketika didinginkan 


4. Perubahan suhu
Reaksi kimia terkadang ditandai dengan adanya perubahan suhu. Suhu yang terjadi bisa menjadi lebih tinggi atau rendah. Reaksi kimia yang disertai kenaikan suhu disebut dengan reaksi eksotermis. Sebaliknya reaksi yang disertai penurunan suhu disebut dengan reaksi endotermis.
Contoh:
1.    Reaksi antara karbid (CaC2) dengan air menghasilkan suhu yang sangat tinggi dan gas asetilena (C2H2) sehingga dapat digunakan untuk melelehkan besi yang sangat keras.
2.    Reaksi antara batu kapur dengan air.
3.    Reaksi yang memerlukan panas terjadi pada reaksi fotosintesis sebagai reaksi endoterm, karena pada reaksi ini terjadi penurunan suhu.

2)    Kecepatan Reaksi
Kecepatan reaksi adalah banyaknya mol/liter suatu zat yang dapat berubah menjadi zat lain dalam setiap satuan waktu.

Untuk reaksi: aA + bB 
®   mM + nN
maka kecepatan reaksinya adalah:
1 (dA)
1 d(B)
1 d(M)
1 d(N)
V = - 
------- = -
------- = +
-------- = +
----------
a dt
b dt
m dt
n dt
dimana:


- 1/a . d(A) /dt
= rA
= kecepatan reaksi zat A = pengurangan konsentrasi zat A per satuan waktu.
- 1/b . d(B) /dt
= rB
= kecepatan reaksi zat B = pengurangan konsentrasi zat B per satuan waktu.
- 1/m . d(M) /dt
= rM
= kecepatan reaksi zat M = penambahan konsentrasi zat M per satuan waktu.
- 1/n . d(N) /dt
= rN
= kecepatan reaksi zat N = penambahan konsentrasi zat N per satuan waktu.


Pada umumnya kecepatan reaksi akan besar bila konsentrasi pereaksi cukup besar. Dengan berkurangnya konsentrasi pereaksi sebagai akibat reaksi, maka akan berkurang pula kecepatannya.
Secara umum kecepatan reaksi dapat dirumuskan sebagai berikut:

V = k(A) x (B) y
dimana:



V = kecepatan reaksi
k = tetapan laju reaksi
x = orde reaksi terhadap zat A
y = orde reaksi terhadap zat B


(x + y) adalah orde reaksi keseluruhan
(A) dan (B) adalah konsentrasi zat pereaksi.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecepatan Reaksi
Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi antara lain konsentrasi, sifat zat yang bereaksi, suhu dan katalisator.
A. KONSENTRASI
Dari berbagai percobaan menunjukkan bahwa makin besar konsentrasi zat-zat yang bereaksi makin cepat reaksinya berlangsung. Makin besar konsentrasi makin banyak zat-zat yang bereaksi sehingga makinbesar kemungkinan terjadinya tumbukan dengan demikian makin besar pula kemungkinan terjadinya reaksi.
B. SIFAT ZAT YANG BEREAKSI
Sifat mudah sukarnya suatu zat bereaksi akan menentukan kecepatan berlangsungnya reaksi.
Secara umum dinyatakan bahwa:
-
Reaksi antara senyawa ion umumnya berlangsung cepat.
Hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antara ion-ion yang muatannya berlawanan.
Contoh: Ca2+(aq) + CO32+(aq) 
®  CaCO3(s)
Reaksi ini berlangsung dengan cepat.
 
-
Reaksi antara senyawa kovalen umumnya berlangsung lambat.
Hal ini disebabkan karena untuk berlangsungnya reaksi tersebut dibutuhkan energi untuk memutuskan ikatan-ikatan kovalen yang terdapat dalam molekul zat yang bereaksi.
Contoh: CH4(g) + Cl2(g) 
®   CH3Cl(g) + HCl(g)
Reaksi ini berjalan lambat reaksinya dapat dipercepat apabila diberi energi misalnya cahaya matahari.
C. SUHU
Pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat bila suhu dinaikkan. Dengan menaikkan suhu maka energi kinetik molekul-molekul zat yang bereaksi akan bertambah sehingga akan lebih banyak molekul yang memiliki energi sama atau lebih besar dari Ea. Dengan demikian lebih banyak molekul yang dapat mencapai keadaan transisi atau dengan kata lain kecepatan reaksi menjadi lebih besar. Secara matematis hubungan antara nilai tetapan laju reaksi (k) terhadap suhu dinyatakan oleh formulasi ARRHENIUS:
k = A . e-E/RT 
dimana:

k : tetapan laju reaksi
A : tetapan Arrhenius yang harganya khas untuk setiap reaksi
E : energi pengaktifan
R : tetapan gas universal = 0.0821.atm/moloK = 8.314 joule/moloK
T : suhu reaksi (oK)

D. KATALISATOR
Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud memperbesar kecepatan reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam reaksi tetapi tidak mengalami perubahan kimiawi yang permanen, dengan kata lain pada akhir reaksi katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah yang sama seperti sebelum reaksi.
Fungsi katalis adalah memperbesar kecepatan reaksinya (mempercepat reaksi) dengan jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi yang baru. Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi dapat berlangsung lebih cepat.

 VI.            DATA            PENGAMATAN
a.       Alat


1.      Pipet tetes 5 buah             
2.      Tabung reaksi 10 buah    
3.      Rak tabung 1 buah
4.      Botol Semprot 1 buah
5.      Aquadest
6.      Erlenmeyer
7.      Buncen
8.      Lakmus Merah
9.      Batang pengaduk 2 buah
10.  Spatula 1 buah



b.      Bahan Reaksi Pembentukan Gas
1.       Larutan NaOH  1M                          +              NH4CL 1 M (Padat)                                                         
2.       Larutan Na2CO(Padat)                  +              HCL 1 M                     
3.       LarutanNa2S2O 0,1              M            +              HCL 1 M                                             
4.       Larutan Ca (OH)(Padat)                                                +              (NH4) SO(Padat)                                                                        
5.       Larutan KI (Padat)                           +              H2SO4       / HCL     + K2I2 0,1 M

c.       Bahan Kecepatan Reaksi
1.       Na2S2O                0,1 M                     +              HCL 0,1 M
2.       Na2S2O                0,1 M                     +              HCL 0,1 M
3.       (NH4)C2O4                 0.1 M                     +              H2SO4     4 N   +  KMnO0,1 N               
4.       (NH4)C2O4                 0.1 M                    +              H2SO4     4 N   +  KMnO0,1 N
5.       Fe 2+                        0,1 M                     +              H2SO4     4 N   +  KMnO0,1 N
6.       Fe 2+                        0,1 M                     +              H2SO4     4 N   +  MnO0,1 M + KMnO0,1 N







VII.            Cara kerja
·         Siapkan tabung reaksi yang sudah di bersihkan dengan aquadest, lalu keringkan.
·         Lihat warna larutan yang akan dimasukkan kedalam tabung reaksi.
·         Setiap tabung reaksi ditetesi 5 pereaksi di masukan kedalam masing-masing tabung reaksi.
·         Tetesi masing-masing tabung yang sudah diberi pereaksi 5 tetes dengan  larutan yang sudah disiapkan.
·         Masing-masing tabung diamati, apakah ada perubahan.

VIII.            Data pengamatan Reaksi Pembentukan Gas :
1.       NaOH  1M = 2 ml ( 40 Tetes)                            +              NH4CL 1M (Padat)
Reaksi: Lakmus merah menjadi biru
2.        Na2CO(Padat)                                   +                    HCL 1 M = 1 ml  (20 Tetes)
Reaksi: Terjadi gelembung
3.       Na2SO0,1 M = 3 ml (60 Tetes)        +              HCL 1 M = 1 ml (20 Tetes)
Reaksi: bau belerang
4.       Ca (OH)(Padat)                                             + (NH4) SO4 1 ml (Padat)      
+ Aquades             : 5 Tetes
Reaksi: Berbau dan pekat
5.       KI (Padat)                                                             +              H2SO1 ml (20 Tetes)        
+ K2Cr2O1 ml (20 Tetes)
Reaksi: Warna menjadi Coklat dan terjadi Penguapan

 IX.            Data Pengamatan Kecepatan Reaksi :
1.       Na2S2O 0,1 M = 3 ml (30 Tetes)              +              HCL 1 ml = (20 Tetes)
Waktu            : 3 Detik
Warna berubah menjadi putih kehijauan dan berbau Belerang
2.       Na2S2O 0,1 M = 3 ml (30 Tetes)                              +              HCL 1 M = 1 ml (20 Tetes)
Waktu            : 5 Detik
Warna berubah menjadi putih kehijauan dan berbau Belerang
3.       (NH4)C2O4     0.1 M    = 3 ml (20 Tetes)  +              H2SO4 4 N = 2 ml (20 Tetes)  +  KMnO (2 Tetes)
Waktu            : 5 Detik
Warna Berubah menjadi Ungu
4.       (NH4)C2O4     0.1 M    = 1 ml (20 Tetes)  +              H2SO4 4 N = 1 ml (20 Tetes) +  KMnO4 0,1  (2 Tetes)
Waktu            : 1 Detik
Setelah dipanaskan, berubah menjadi tidak berwarna

5.       Fe 2+  0,1 M = 1 ml (20 Tetes)                    +              H2SO4 4 N = 1 ml (20 Tetes) +   KMnO0,1 N (2 Tetes)
Waktu            : 3 Detik
Warna awal tidak berwarna, setelah di teteskan KMnO0,1 N (2 Tetes) yang berwarna Ungu kembali lagi menjadi tidak berwarana
6.       Fe 2+  0,1 M = 1 ml (20 Tetes)                    +              H2SO4 4 N = 1 ml (20 Tetes) +  MnSO4 0,1 N = 1 ml (20 Tetes)                                  +        KMnO0,1 N (2 Tetes)
Waktu            : 2 Detik
Warna berubah menjadi sedikit Kuning

    X.            Reaksi
a.       NaOH 1M + NH4CL 1 M                                 à  NH4OH  + NaOH   à  NH4OH NH3 (g) + H2O
Lakmus Merah menjadi biru
b.       Na2CO(padat)  + 2 HCL 1 M                         à  2NaCL + H2O (l)  + CO2 (g)
Gelembung + Gas
c.        Ca(OH)3 (s) + (NH4)SO2 (s)                               à CaSO4 (s)  + 2H2O (l) + 2 NH3 (g)
Berbau Belerang
d.       Na2S2O2 HCL                                                  à  2NaCL + H2O + S (s) + SO2 (g)
Timbul bau
e.        6KI + 7 H2SO+ K2Cr2O7                  à  4 K2SO4   +  Cr (SO4)3   +  7 H2O  + KI2(s)
Coklat


 XI.            Kesimpulan
Berdasarkan data hasil praktikum I, yaitu menentukan apakah ada perubahan gas, maka dapat disimpulkan bahwa, larutan-larutan diatas bila di campurkan akan mengalami pembentukan atau perubahan gas, seperti terbentuknya gelembung, timbulnya gas beserta bau yang khas, dan adanya perubahan lakmus merah menjadi biru.
Berdasarkan data hasil praktikum II, yaitu mengamati kecepatan reaksi, maka dapat disimpulkan bahwa, kecepatan reaksi sangat dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu:
·         Konsentrasi,
·         Suhu,
·         Sifat zat yang direaksikan dan
·         Katalisator.


Baca Selengkapnya ....

BESARAN DAN SATUAN ,PENGUKURAN DAN KONVERSI SATUAN

Posted by Unknown 0 komentar


BESARAN DAN SATUAN ,PENGUKURAN DAN KONVERSI SATUAN

PENGERTIAN BESARAN, BESARAN POKOK DAN BESARAN TURUNAN :
Ø  Besaran à segala sesuatu yang mempunyai nilai (dapat diukur) yang dapat dinyatakan dengan angka-angka. Besaran memiliki satuan misal : Suhu tubuh , berat dan tinggi badan
Ø  Satuan à sesuatu yang digunakan untuk membandingkan atau mengukur besaran
Ø  Apabila kita ingin mengatakan suatu kuantitas fisik yang melibatkan hukum atau prinsip, harus mengetahui bagaimana cara mengukur suatu kuantitas.
Ø  Banyak yang mempergunakan satuan di dalam pengukuran ,meskipun para ilmuwan telah mempertimbangkan kuantitas fisik yaitu satuan dasar istilah dalam pengukuran
Ø  Besaran pokok adalah besaran yang dianggap berdiri sendiri , tanpa menurunkannya dari besaran-besaran lain.
Pada saat ini ditetapkan adanya 7 (tujuh) besaran pokok
Ø  Dalam cabang ilmu fisika yang dikenal sebagai ilmu mekanika , kuantitas dasar adalah panjang, massa dan waktu , sedangkan satuan dasar adalah meter , kilogram dan detik. Seluruh kuantitas fisik  yang terlibat di dalam mekanika dapat dinyatakan dalam istilah satuan dasar. Sebagai contoh gaya (force) dinyatakan sebagai kg m per detik.


7 (tujuh) besaran pokok
Besaran pokok , satuan simbol satuan dan dimensi menurut Satuan  
                 Internasional (SI)

(No) Nama Besaran
Satuan
Simbol Satuan
Dimensi
(1)     Panjang
Meter
m
[L]
(2)      Massa
Kilogram
kg
[M]
(3)      Waktu
Sekon
s
[T]
(4)      Suhu
Kelvin
K
[q]
(5)  Intensitas
          cahaya
Candela
cd
[J]
(6)      Kuat Arus
Ampere
A
[I]
(7)      Banyak zat
Mole
mol
[N]

Ø  Besaran turunan adalah besaran yang dapat diturunkan atau diperoleh dari besaran-besaran pokok.
Ø  Satuan besaran turunan diperoleh dari satuan-satuan besaran pokok yang menurunkannya



Besaran Turunan , Satuan , Simbol dan Dimensionalnya menurut Satuan Internasional (SI)

Nama Besaran
Satuan
Simbol Satuan
Dimensi Satuan
Gaya
Newton
N
kg.m/sec2
Tekanan
Pascal
Pa.N./m2
kg/m.sec2
Energi
Joule
J.Nm
kg.(m2/sec2)
Tenaga
Watt
W.J./sec
kgm2/sec3
Torque
Meter-Newton
r.mN
kgm2/sec2
Electric Charge
Coulomb
C
asec
Potensial listrik
Volt
V atau J/c
kgm2/sec3.a
Tahanan listrik
Ohm
V/A atau  R
kgm2/sec3.a2
Kapasitas listrik
Farad
F, C/V, C2/J
sec4a2/kgm2
Induktan
Henry
H, J/A2, sec
kgm2/sec2a2
Fluks magnetis
Weber
Wb, J/A, Vsec
kgm2/sec2a
Intensitas magnetis
Testa
T, Wb/m2, Vsec/m2
kg/sec2a
Frekwensi
Hertz
Hz
sec-1
Disintegrasi rate
Becquerel
Bq
sec-1
Dosis absorpsi
Gray
Gy, J/Kg
m2/sec2
Ø  Disamping diperoleh dari penjabaran satuan besaran pokok yang terkait , satuan besaran turunan sering juga diambil dari nama orang yang berjasa di bidang tersebut.
Contoh :
            Satuan gaya (F) adalah kg.m.s-2 sering dinyatakan dengan Newton (N)
            Satuan usaha (W) adalah kg.m2.s-2 sering dinyatakan dengan joule (J)
Ø  Cabang ilmu fisika lainnya mempergunakan lebih dari 3 kuantitas dasar dan satuan yaitu temperatur (Kelvin), arus listrik (Ampere) dan intensiatas cahaya (Candela).
Ø  Tahun 1954 dan 1960 , seluruh kuantitas fisika dan satuan telah dinyatakan dalam istilah satuan yang dikenal sebagai satuan Internasional (SI) dan beberapa turunannya.-
Ø  Dalam bidang kesehatan  sistem SI , maupun turunan sistem SI tidak semua dipergunakan , masih banyak sistem non SI yang masih dipergunakan misalnya sebagai berikut :

Besaran, Satuan dan Simbol non SI yang masih dipergunakan di bidang
kedokteran
Nama Besaran
Satuan
Simbol
Massa
gram
g
Panjang
foot, centimeter
ft, cm
Volume
Liter
L
Waktu
menit
min
Gaya
dyne, pound force
dyne, lbf
Energi
kalori, kilokalori
cal, kcal
Tenaga
kilokalori/menit
kcal/min
Tekanan
Pound/inch, millimeter mercuri, sentimeter air, atmosfir
Psi, mmHg, cmH2O, atm
Temperatur
Fahreinheit, Celsius
OF, OC

KONVERSI SATUAN
         Konversi satuan adalah suatu cara untuk menyatakan suatu besaran dengan satuan tertentu dari satu bentuk satuan ke bentuk satuan yang lain.
         Misal : Untuk menyatakan suhu suatu benda dapat dinyatakan dalam oC, oK atau oF atau pernyataan konsentarsi zat bisa dinyatakan dalam %, Molaritas, Normalitas, dan lain-lain
          
CONTOH KONVERSI SUHU (SKALA TEMPERATUR)
         Di Amerika banyak mempergunakan skala Fahreinheit (oF). Dalam pembuatan skala itu dicari titik referensi , yang disebut titik tetap kemudian dibuat skala sekehendak kita. Sebelum tahun 1954 ditentukan dua titik sebagai titik acuan baku yaitu titik es dan titik uap.
         Titik es yaitu suatu titik dimana terdapat campuran air yang jenuh udara dengan es yang bertekanan 1 atmosfir. Titik uap ialah suhu dimana terdapat air mendidih pada tekanan 1 atmosfir.
         Fahrenheit pada tahun 1724 telah menentukan skala temperatur dimana pada 32oF adalah titik es, pada 212oF merupakan titik uap serta temperatur rectal berkisar 98,6oF.
         Dalam bidang kedokteran banyak menggunakan skala Celsius ,titik es diberi harga 0oC, suhu pada titik uap diberi harga 100oC. Untuk keperluan bidang ilmu pengetahuan diperlukan skala lain yaitu skala Kelvin.

Perbedaan antara beberapa skala temperatur dapat dilihat pada tabel di bawah ini


Celsius (t)
Kelvin (T)
Fahrenheit (Tf)
Rankin (TR)
Reamur(TRe)
a
100oC
373,15
212
671,67
80






b
0,01
273,16
32,18
471,688
0,008
c
0
273,16
32
491,67
0
d
-273,15
0
439,67
0
218,52
         TR  =  (9/5) T             Tf = (9/5) t   + 32   
         Tf = TR – 439,67

PENGUKURAN
         Fisika maupun disiplin ilmu lain pengukuran kuantitas merupakan dasar utama.
         Dalam pengukuran ini akan dicari korelasi atau intepretasi dan sering pula diadakan perbandingan dengan prediksi teoritis.
         Hal-hal yang meliputi pengukuran kuantitas ini adalah sistem satuan Internasional atau disingkat dengan SI.
         Kadang-kadang untuk menyatakan kuantitas dipergunakan satuan Inggris misalnya : feet, pound dan gallon.

Dalam bidang kedokteran (kesehatan) sampai sekarang masih dipergunakan kuantitas dalam satuan non standar., seperti terlihat pada tabel di bawah
Nama Besaran
Satuan
Simbol
Massa
gram
g
Panjang
foot, centimeter
ft, cm
Volume
Liter
L
Waktu
menit
min
Gaya
dyne, pound force
dyne, lbf
Energi
kalori, kilokalori
cal, kcal
Tenaga
kilokalori/menit
kcal/min
Tekanan
Pound/inch, millimeter mercuri, sentimeter air, atmosfir
Psi, mmHg, cmH2O, atm
Temperatur
Fahreinheit, Celsius
OF, OC

PENGERTIAN ANGKA PENTING
         Angka penting adalah semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran , termasuk angka terakhir yang ditafsirkan.
         Ketelitian suatu pengukuran dinyatakan oleh banyaknya angka penting.
         Semakin banyak angka penting yang dilaporkan ,semakin tinggi ketelitian pengukuran yang dilakukan.
Contoh :
         Pengukuran (1) menghasilkan 1,45 cm (mengandung 3 angka penting).
         Pengukuran (2) menghasilkan 1,457 cm (mengandung 4 angka penting).
         Dari kedua hasil pengukuran tersebut dikatakan bahwa pengukuran ke (2) lebih teliti dari pada pengukuran (1).
         Pada proses pengukuran ini perlu diperhatikan :
         “ketepatan (accuracy) dan ketelitian (precision)”
         Ketepatran (accuracy)  menunjukan pengukuran yang bagaimana memberikan pendekatan untuk memperoleh suatu standar atau seberapa dekat nilai yang diperoleh dengan suatu standar. Misalnya ; tinggi seseorang ketika diukur diperoleh 1,765 meter, ketepatan mungkin  0,003 (33 mm) dibandingkan dengan patokan (standar) meter
         Sedangkan ketelitian (precision) berhubungan dengan kemampuan pengembalian dari suatu pengukuran tanpa mempedulikan ketepatan dalam pengukuran.
         Suatu contoh ;  seseorang penderita yang diukur temperaturnya dalam 10 kali diperoleh : 34,1 oC; 34,0 oC ; 34,2 oC; 34,1 oC ; 34,4 oC ; 34,3 oC ; 34,0 oC; 34,3 oC ; 34,4 oC dan 34,2 oC, (temperature tubuh normal berkisar 37,0 oC).
         Hasil di atas menunjukan ketelitian dalam pengukuran dengan nilai rata-rata 34,2 oC dan variasi 0,2 oC.
         Apabila dibandingkan dengan termometer standar  tampak adanya ketidaksempurnaan “tidak tepat” (tidak accuray) , yaitu selisih pembacaan 3 oC dibawahnya.
         Dari uaraian di atas tampak perbedaan antara ketelitian dan ketepatan , termometer yang dipakai tidak tepat , sedangkan hasil yang diperoleh itu betul-betul suatu pengukuran yang teliti.
         Untuk memperoleh ketelitian diperlukan suatu pengukuran berkali-kali kemudian dicari rata-rata akhir dari kesemua data yang diperoleh dan dicari standar deviasinya


ATURAN PENULISAN HASIL PENGUKURAN DENGAN ANGKAPENTING
         Dalam penyajian hasil pengukuran dengan angka penting , angka nol mempunyai arti khusus yang perlu dicermati, yaitu :
  1. Semua angka bukan nol merupakan angka penting
  2. Angka nol yang terletak diantara angka bukan nol merupakan angka penting
  3. Angka nol yang terletak disebelah kiri angka bukan nol baik yang terletak dikiri atau dikanan tanda decimal (koma) merupakan bukan angka penting
  4. Angka nol yang terletak disebelah kanan angka bukan nol merupakan angka penting ,kecuali ada penjelasan lain (biasanya diberi tanda garis bawah pada angka terakhir yang masih dianggap angka penting)
         Contoh : 0,01205 = mengandung 4 angka penting
                        25.1000 = mengandung 6 angka penting
                        25.1000 = mengandung 4 angka penting

ATURAN BERHITUNG DENMGAN ANGKA PENTING DARI BILANGAN
         HASIL  PENGUKURAN
         Hasil operasi hitung dari dua atau lebih faktor hasil pengukuran harus memiliki banyak angka penting sama dengan banyak angka penting faktor  yang memiliki banyak angka penting terkecil . Aturan pembulatan yang biasa dilakukan adalah :
  1. Angka-angka dibawah lima dibulatkan ke bawah
  2. Angka-angka diatas lima dibulatkan ke atas
  3. Angka lima dibulatkan dengan aturan sebagai berikut :
        Jika angka pertama di depan angka lima merupakan angka genap , maka dibulatkan ke bawah
        Jika angka pertama didepan angka lima merupakan angka gasal , maka dibulatkan ke atas.
Contoh :
         Hasil operasi hitung dari beberapa faktor hasil pengukuran = 84,51527 km. 
    Hasil tersebut diatas dilaporkan sebagai berikut
         84,5153 km (mengandung 6 angka penting)
         84,515   km (mengandung 5 angka penting)
         84,52     km (mengandung 4 angka penting)
         84,5       km (mengandung 3 angka penting)
         84          km (mengandung 2 angka penting)

PROSES PENGUKURAN
         Pada abad ini sering dengan pertumbuhan ilmu pengetahuan , bilangan dan ketepatan dari pengukuran kuantitas dalam praktek klinik sangat ditingkatkan. Oleh karena hasil pengukuran itu dapat memberikan informasi yang sangat berharga tentang gambaran keadaan tubuh dan hasil pengukuran itu dipakai sebagai bahan perbandingan
         Dalam pengukuran fisik dibagi dalam 2 (dua) golongan yaitu :
  1. Proses pengukuran berulang
         Pada proses ini biasanya melibatkan sejumlah pengulangan misalnya ; perdetik, permenit , perjam dan sebagainya. Misalnya pengukuran pernafasan diperoleh nilai pernafasan rata-rata (bhrething rate) kira-kira 15 per menit , denyut nadi 70 permenit).
2.   Proses pengukuran yang tidak berulang
         Proses pengukuran ini hanya dilakukan sekali terhadap individu. Misalnya mengukur substansi asing yang dikeluarkan oleh ginjal

REGISTRASI ATAU PENCATATAN HASIL (MEDICAL RECORD)
         Mencatat hal-hal yang diperoleh dari hasil pengukuran disebut meregistrasi.
         Registrasi ini penting untuk memperoleh informasi yang diperlukan.
         Kadang-kadang diperlukan registrasi kontinyu terhadap suatu keadaan selama waktu tertentu, registrasi ini disebut registrasi analog.

FALSE POSITIF DAN FALSE NEGATIF
         Dari hasil pengukuran itu belum bisa menentukan apa-apa tanpa membandingkan nilai yang ada.
         Suatu contoh ,seorang dokter setelah memperoleh sejarah kesakitan dari seorang penderita , memperoleh hasil pemeriksaan fisik dan hasil pengukuran laboratorium, dapat menentukan apakah penderita itu sakit atau tidak.
         Dalam hal penentuan itu bisa terjadi false positif atau false negative.




Baca Selengkapnya ....

TEKNIK MENIMBANG DAN MELARUTKAN ZAT KIMIA

Assalammu'alaikum,,, hai sahabatku yang baik hatinya...
:)
Saya mau sedikit share nih tentang Teknik Menimbang dan Melarutkan Zat Kimia....
Dimulai dari alat-alat apa aja yang harus disiapkan, sampai penghomogenannya didalam labu ukur,,
Untuk sahabat yang penasaran dan mau tau gimana caranya, silahkan putar video dibawah ini..!!!
semoga bermanfaat yah....
Trik SEO Terbaru support Online Shop Baju Wanita || Digital Areas - Original design by Bamz | Copyright of Belajar jadi Analis Handal.